Buku (Tentang) Arswendo Atmowiloto | Bersyukur Tanpa Libur

“Bersyukur Tanpa Libur” adalah buku yang istimewa. Buku ini menjadi buku tentang Arswendo Atmowiloto (ditulis oleh keluarga, rekan seprofesi, teman, dan rekan kerja); sekaligus buku yang memuat tulisan-tulisan yang ditulis sendiri oleh Arswendo Atmowiloto.

Ada kemungkinan buku yang diformat bersampul tebal (hard cover) dan berwarna pada halaman-halaman tertentu ini, akan menjadi buku terakhir yang memuat tulisan almarhum–kecuali ditemukan lagi karya-karya lain yang belum pernah dibukukan.

Ada yang menarik, pada bagian akhir buku ini. Sepanjang tiga halaman, diisi dengan daftar judul buku-buku karya Arswendo Atmowiloto yang pernah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Cukup menakjubkan. Seluruhnya ada 55 judul.

Blurb

Banyak predikat bisa disandangkan pada sosok seorang Arswendo Atmowiloto. Di atas semua yang pernah terucap baginya, Beliau layak ddipanggil sebagai “Sang Empu”. Setidaknya Wendo, demikian nama pendeknya, adalah sang suhu dengan jurus “Mengarang Itu Gampang”.

Produktivitasnya, sangat luar biasa. Buku hanya menggarisbawahi kebenaran ini. Ia selalu siap menulis di mana pun, kapan pun, dan menggunakan (alat bantu) apa pun. Ia menulis di kantor, dalam perjalanan, hingga saat di penjara. Karyanya bisa tertuang dalam rupa coretan tangan, ketikan mesin tik manual, hingga komputer.

Kumpulan tulisan Arswendo yang terhimpun dalam buku ini berbicara tentang makna hidup. Ia memaknainya dengan kata kunci “terus bersyukur”. Disertai sejumlah tulisan dari pihak-pihak lain–anggota keluarga, kolega, para sahabat. Orang-orang yang paling dekat dengannya.

Siapa Arswendo Atmowiloto

Pada buku ini tidak terdapat halaman “Tentang Penulis” yang biasanya ditaruh di halaman-halaman akhir buku, digunakan untuk memperkenalkan atau menguraikan tentang sang penulis buku.

Siapa Arswendo Atmowiloto, dalam buku ini, bisa dikenang oleh setiap orang melalui 55 judul karyanya yang dihimpun berdasarkan buku yang diterbit di Gramedia Pustaka Utama saja.

Pada tiga halaman itu, kita tahu bahwa Arswendo Atmowiloto menulis menggunakan nama aslinya dan beberapa buku menggunakan nama samaran Titi Nginung. Ia menulis dua seri, yaitu Seri Imung dan Seri Kiki & Komplotannya. Cerita-cerita dalam seri ini, bermuasal dari karya-karyanya yang dimuat di Majalah Remaja HAI.

Pengantar

Tidak terdapat halaman “Pengantar” dalam buku. Pengantar yang biasanya kita jumpai dari penerbit atau dari editor yang melakukan kerja menghimpun atau mengupayakan tulisan-tulisan untuk dibukukan.

Namun demikian, seusai Daftar Isi, terdapat bentangan dua halaman berwarna. Pada sisi kiri (halaman 6) terdapat ilustrasi meniru sosok Arswendo dalam posisi berbaring ditopang kedua tangan di bawah kepala.

Pada halaman sebelahnya, dimuat kutipan yang dipetik dari karya Wendo dalam buku berjudul “Horeluya”. Kutipan ini, mungkin, dianggap sudah memadai sebagai pengantar. Tertera di sana, “Bersyukur itu lega, tidak cemas, tidak lagi dibalut rasa takut, tidak berputar-putar dengan mencari alasan.”

Daftar isi buku Bersyukur Tanpa Libur

Isi Buku

Isi buku “Bersyukur Tanpa Libur” terpilah menjadi dua bagian, berdasar siapa penulisnya. Bagian 01 adalah himpunan karya Arswendo Atmowiloto dan Bagian 02 adalah tulisan-tulisan orang lain tentang dirinya.

Secara keseluruhan, buku ini memuat 34 tulisan, dua puisi, sejumlah ilustrasi berwarna, dan kutipan-kutipan bernas yang pernah ditorehkan almarhum di banyak karya tulis.

Pada bagian akhir, Bagian 02 ini ditutup dengan dua halaman yang berisi sambutan dari Presiden RI Joko Widodo. Tertera di atas tanda tangan Presiden, tertulis bulan September 2020.

Bagian 01 – Catatan Arswendo Atmowiloto tentang Dirinya Sendiri

Tulisan-tulisan ini, beruntung ditemukan dalam folder My Documents, bercampur aduk dengan berbagai tulisan lainnya. Ke-9 tulisan ini, punya ciri khas, semua tentang yang “pertama”.

  • Anjing Pertama
  • Ibu yang Pertama
  • Mesik Tik yang Pertama
  • Celana Panjang yang Pertama
  • Tato yang Pertama
  • Mobil yang Pertama
  • Rumah Sakitku yang Pertama
  • Mendalang Pertama Kali
  • Perkenalan Pertama dengan Makhluk Halus

Catatan Arswendo Atmowiloto tentang dirinya

Bagian 02 – Catatan dari Mereka yang pernah Dekat dengan Arswendo Atmowiloto

Bagian ini memuat 34 tulisan dari orang-orang yang berada dalam lingkar terdekat Arswendo Atmowiloto, yang meliputi keluarga (istri, anak, dan cucu), rekan seprofesi, para sahabat, dan rekan kerja pada masa aktif beliau.

1. Dari Keluarga

  • Semua Bisa Karena Semua Istimewa (Agnes Sri Hartini, istri)
  • Untuk yang Pernah dan Masih Merasa Kehilangan (Caecilia Tiara, putri)
  • Pak Ndo, Cerita yang Tak Pernah Usai (Soni Wibisono, putra)
  • Kematian Bapak (Pramudha Wardani, putri)
  • Sang Penipu (Endah Permata Sari, menantu)
  • Mbah Kakung (Panji Wibisono, cucu)
  • Gengsinya Setinggi Langit (Kania Kinasih, cucu)

Agnes Sri Hartini

2. Dari Rekan Seprofesi

  • Kreator yang Sudah Selesai dengan Egonya (Gina S. Noer, penulis/sutradara)
  • Energi itu Bernama Mas Wendo (Salman Aristo, penulis skenario)
  • Kita Berada di Setapak yang Sama (Dee Lestari, penulis)
  • Barabas, Rangkuman Perjalanan Spiritual Arswendo (Romo Mudji Sutrisno, budayawan/rohaniwan Katolik)
  • Arswendo Atmowiloto: Centre for Perfoming Arts (Prita Kemal Gani, pendiri/pemilik London Scholl)
  • Mas Wendo Dalam Cerkak (Seno Gumira Ajidarma, sastrawan)
  • Mengenang Arswendo, Merayakan Indonesia (Budi Adiputro, jurnalis)

3. Dari Teman

  • Arswendo Atmowiloto dalam Kenangan Sahabat Eks SMP Negeri 4 Solo (H Aulia Syawal, dokter/sahabat)
  • Senang Dipangan Opo, Kok Pintere Koyo Ngene (Yanusa Nugroho, penulis)
  • Jangan Terlalu Tertib, Bandel Sedikit Tak Apa (Leila S. Chudori, penulis)
  • Aku Berani Hidup Sebagai Penulis (Hilman Hariwijaya, penulis)

4. Dari Rekan Kerja

  • Mudahnya Melimpahkan Wewenang (Mayong Suryo Laksono, wartawan)
  • Kami Selalu “Kalah Awu” (Agus Langgeng, wartawan)
  • Mau Nulis, Ya Nulis Aja (Yanto Bokek, wartawan)
  • Bertemu Pak Jakob (Gunawan Wibisono, fotografer)
  • Bekerja Dengan Seorang Sifu (Yoen K., produser)
  • Tes Wawancara (Iwan Iskandar, wartawan)
  • Hargai Profesimu (Ricke Senduk)

Sambutan Presiden RI Joko Widodo

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkenan memberikan sambutan dalam empat paragraf panjang yang membutuhkan dua halaman buku. Dikisahkan oleh Presiden Jokowi bagaimana mereka berjumpa untuk mengerjakan proyek buku tentang Kota Solo.

Presiden memuji Arswendo bagaimana buku Kitab Solo yang ditulisnya, dapat dijiwainya dengan baik. Buku itu berisi tentang seluk-beluk Solo yang digambarkan dengan tepat dan detail.

Sambutan Jokowi

“Mengenal Arswendo Atmowiloto adalah mengenal budaya. Bukan hanya untuk Solo, tapi juga untuk Indonesia,” tulis Presiden Jokowi dalam paragraf penutup sambutannya.

Karya Arswendo Atmowiloto di Gramedia Pustaka Utama

  • Menggunakan nama Arswendo Atmowiloto
  • Menggunakan nama samaran Titi Nginung
  • Seri Imung
  • Seri Kiki & Komplotannya

Sejumlah Kutipan dari Arswendo Atmowiloto dalam Buku Ini

“Hanya mereka yang tulus akan menemukan jalan keluar yang menyenangkan, tidak menyakiti siapa-siapa dan tidak menyisakan dendam.” (Dalam “Dua Ibu”.)

“Saya lebih puas mengenangnya, sesekali. Setia pada kenangan semasa hidupnya.”

“Bahwa sesungguhnya cinta yang tulus tak pernah sis-sia. Kita masih akan menemukan makna ketika mengenangnya.”

“Sungguh saya beryukur bisa menggunakan mesin tik. Saya merasa hidup lagi, merasa menemukan nyawa ketiga. Nyawa kedua adalah doa.” (Saat di penjara.)

“Selalu ada jalan keluar, bahkan ketika seolah semuanya buntu. Selalu ada kain terpal, bahkan ketika yang sedang mode adalah jins biru.”

“Kalaupun berbuat jahat, lebih baik bertobat meskipun tidak menyesal. Daripada menyesal tapi tidak bertobat.” (Saat di penjara.)

Kutipan Arswendo Atmowiloo

“Kenangan tidak bisa dikalahkan oleh waktu. Makin lama berlalu, kenangan makin bermutu.”

“Cara bertahan dan bisa melejit bukan dengan menjerit, bukan dengan memuji keagungan masa lampau tapi dengan melebur diri ikuti perkembangan zaman.” (Dalam “Canting”.)

“Karena akal sehat semata tak bisa menerang-jelaskan. Sementara menanggalkan akal sehat sama sekali juga rasa-rasanya tak mungkin.”

“Hanya kalau kita menyayangi, kita bisa merasakan kehilangan. Dan sesungguhnya, rasa sayang itu tidak pernah benar-benar bisa hilang. Mungkin juga tidak berkurang.” (Dalam “Kau Memanggilku Malaikat”.)

“Cinta membuat kita peka, membuat kita merasakan, menghayati, mengalami terus-menerus.” (Dalam “Kau Memanggilku Malaikat”.)

“Persamaan nasib adalah akar persahabatan sejati.” (Dalam “Kisah Para Rahib”.)

“Tebarkan jalamu sebab ikan tak berenang melenggang masuk ke dalam penggorengan.” (Dalam “Puisi Kesaksian”.)

Spesifikasi Buku

  • Judul: Bersyukur Tanpa Libur: Catatan Kehidupan Arswendo Atmowiloto
  • Editor: Anastasia MW & Nina Andiana
  • Desain & Ilustrasi: Orkha
  • Layout: Anna Evita Purba
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Kategori: Literatur
  • ISBN: 978-602-06-4943-6
  • ISBN Digital: 978-602-06-4947-4
  • Tahun Terbit: 2020
  • Ukuran: 13,5 x 20 cm
  • Tebal: 280 hlm
  • Kertas Sampul: Hard Cover
  • Kertas Isi: Bookpaper
  • Harga: Rp139.000

2 thoughts on “Buku (Tentang) Arswendo Atmowiloto | Bersyukur Tanpa Libur

  • October 8, 2021 at 5:18 pm
    Permalink

    Ini salah satu penulis favorit, dan kalau tak salah Hilman lupus adalah murid dikelas menulisnya. Saya punya beberapa judul karya om Wendo ini tapi lupa judul²nya, setahu saya sekarang bersisa di rak hanya dua ibu dan blakanis.

    Reply
    • October 9, 2021 at 2:10 pm
      Permalink

      Iya, betul sekali. Terutama para penulis muda yang sering menulis di majalah HAI.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected!