Randa Tapak

CELOTEA#KolomKhun

PAGI itu, tiba-tiba saya teringat pada Dandelion.

Nama Indonesianya, Randa Tapak. Ia kerap kali mengacu pada tumbuhan dengan kembang-kembang kecil. Mereka dapat melayang tatkala tertiup angin.

Tentu aja ada lekuk liku, bahkan labirin, jalan di benak untuk tiba di sana. Begini kisahnya…

Pagi mulai beranjak ketika saya menyelesaikan sejumlah “nyawa” di gim sebuah aplikasi. Iseng, jempol saya menyeret layar henpon untuk menengok TikT*k.

Dan, blah! Memancurlah lagu itu. Mengiringi entah aksi apa. Suaranya menyergap pendengaran saya. Dan, kemudian, menyusup panjang hingga ke palung-palung dalam hati.

Sergapan itu menuntun saya beralih langkah, menuju YouTube. Saya memasukkan kata kunci di kolom pencarian. Usai itu, memanjang ke bawah senarai unggahan video. Sebuah wajah meyakinkan saya untuk dijatuhi pilihan.

Video itu bertitimangsa 10 tahun silam, telah ditonton 61 juta kali. Sebuah suara yang pernah akrab se-Indonesia menyeruak. Bondan Prakoso, Fade2Black.

Saya kutipkan baris-baris pada bait pertama lirik lagu “Ya Sudahlah” yang mereka lantunkan dengan keasyikan yang seru.

Ketika mimpimu yang begitu indah
Tak pernah terwujud, ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu
Dan tak pernah sampai, ya sudahlah, hmm

Sekian jam telah usai, semenjak itu. Saya telah mencoba mengusir nukil baris-baris lagu ini yang seenaknya mengusik dari dalam benak. Dan, gagal.

Baiklah. Saya menyempatkan waktu untuk duduk diam dan menguliknya. Dalam keasyikan itu, inilah yang kemudian terjadi. Pendar neuron di sistem syaraf kapasitas otak yang enggak begitu besar ini, membawa saya pada si Randa Tapak–Dandelion.

Mengenai tumbuhan ini, Wiki memberi tahu kita bahwa asal asli tumbuhan ini adalah Eropa dan Asia. Namun, kisahnya sudah demikian lagi. Waktu yang berlalu mengantarkan Randa Tapak menyebar ke segala tempat.

Saya mengenali nama tumbuhan rapuh ini dari sebuah novel lawas berbilang tahun lampau. Tepatnya, karya Karen Kingsbury yang ia beri judul “Like Dandelion Dust”.

Di belakang tahun kemudian, nama itu memendar lagi. Saya mengenalinya sebagai tajuk album lagu Monita Angelica Maharani Tahalea. Dalam samar ingatan saya, maaf bila keliru, serbuk Dandelion berberaian, nyelip di klip lagunya.

Di ujung siang ini saya pun terpantik rindu pada Momon, nama pendek Monita Tahalea, yang pernah merasai panggung Indonesia Idol musim 2005. Pada lafaz suara khasnya. Bagai berjejak di tengah konsernya.

Judul lagu itu, “Memulai Kembali”. Lagu manis untuk telinga.

Matahari sudah di penghujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Ini bukan lagu bucin. Tidak juga tergolong lagu galau–meski sepintas Anda yang tidak mengenalinya bisa salah dalam menduga. Alih-alih itu, ini lagu manis yang lincah. Riang dan optimis.

Coba dengar kelanjutan suara Momon:

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

Kedua lagu ini, mengajarkan banyak hal pada kita. Bondan Prakoso dan kawan-kawan mengingatkan kita untuk teguh.

Apa pun yang terjadi
Ku ‘kan selalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
‘Cause everything’s gonna be okay

Terkadang, banyak langkah yang membuat kita lelah. Namun, menjejaklah terus. Itu pesan Momon, menggelitik kita untuk melangkah lagi.

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah pergi
Kau pun tak lagi kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!